Sunday, April 02, 2006
Button... the finish line is still 10 meters away!!!!
If I'm Jenson Button, I'll cry like hell today...
- it's just my little imagination hehehe -Great Saturday Qualification, I finally took pole position on my Honda... Just one step before my first F1 GP Champion... I had to say I'm nervous but YEAH! This is my time!
But damn! where's all my luck today??? First my car won't run as supposed to. oh... what... is it Alonso... he's passing me.. oh no... Kimi is going to pass me too... eh JPM too? my God, what the hell is going on???
ok, relax... i AM dropping from pole to 5th but at least i'll get some points. Hey, is that Schumi catching me up??? Arghhh... move-move-move... Wow, he crashes! he crashes! ok, take a deep breath... take a deep breath. I'm ok now...
Few more laps, i'll be just fine. Eh, bloody hell, Fisi is behind me! he's so fast, where did he come from? No way, this time I must fight. Can't let him pass me... one lap to go, he's not that fast! HE WON'T PASS ME!
ARRRRRRRRRRRRRGHHHHHHH NO WAY NO WAY NO WAY... is that fire on my back?????? FIRE???? ok.. relax..relax, just two more corners, I'll be damned to make it through!!!... oh NOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
and my car stops 10 meters off from finish line.
You want My words? This is simply just a
BLACK SUNDAY for me. Period.
- Australian F1 GP 2006 -
kenapa ntu mobil gak didorong aja rame-rame ke garis finish ya... kalo dorongnya rame-rame mungkin masih sempat bikin poin... ugh... just read it's team order for him to stop before crossing line, an attempt to avoid an engine change penalty! full story here:
"So near yet still so far for Button"Poor poor JB.
posted by retno@15:57
"Masih ada kabar baik di antara kita..."
"Jargon bad news is good news sudah melekat sekian lama di kalangan pembuat berita. Semakin buruk sebuah kabar, semakin bagus untuk dibuat berita menghebohkan. Setiap hari korang, radio dan televise seolah-olah menjadi penyebar kabar buruk, mulai dari pembunuhan, kecelakaan, bencana alam, penipuan, korupsi, hingga ketidakbecusan penyelenggara negara yang seharusnya menjadi pengayom dan pelayan masyarakat.
Maka orang pun lupa di balik peristiwa-peristiwa menyedihkan itu, masih ada hal baik, bahkan keajaiban, yang terjadi setiap hari dan memberi harapan, optimisme.."
Itu adalah cuplikan artikel televisi di Kompas cetak hari ini yang tadi pagi terlewat begitu saja olehku. Membaca artikel ini mengingatkanku pada tulisan Barkah ("
Oh Berilah Kami Sedikit Harga Diri") di blognya.
Jangan buru-buru tertipu, sebenarnya artikel ini cuma iklan acara baru Trans yang judulnya Good News. Semacam siaran berita televisi, tapi dibawakan dengan gaya humor ala variety show. Sepertinya sih menarik, karena menurut Roan Anprira (si produser) Good News lebih menekankan pada berita baik yang betul-betul ada, tanpa direkayasa. Kalau dilihat dari pembawa acaranya (Indra Bekti dan Okky Lukman) bisa jadi banyak kegilaan-kegilaan spontan yang muncul di acara ini...
Terlepas dari menarik atau tidaknya acara ini (boleh dicek tuh, Senin-Sabtu pk 16.00), beberapa bagian dari artikel itu setidaknya bisa mewakili diskusi di blog Barkah. Pastinya sebagian besar dari kami akan mengamini kata-kata Roan: "Mencari berita baik ini kadang lebih sulit daripada mencari berita buruk". Kalaupun ada berita baik, banyak yang terselip di lembaran tengah koran. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami...
Menurut penulis artikel ini, "berita baik biasanya menjadi berita kecil". Iseng-iseng aku mencoba menghitung berita baik di halaman depan Kompas. Wah, dari 10 headlines, tidak ada yang masuk kategori berita baik versiku nih. Kecuali mungkin buat penggemar MU ya... soalnya salah satu headlinenya adalah keberhasilan MU mengalahkan Bolton Wanderers (nih berita sebenarnya sepenting itu gak sih sampai ditaruh di halaman utama???).
So friends, kalau ingin baca berita baik yang inspiratif, rajin-rajinlah membuka halaman tengah dan belakang koran... siapa tahu anda beruntung!
posted by retno@15:23
Sepang vs Sentul (catatan kecil...)
Apa bedanya menonton A1 GP di Sentul dengan F1 GP di Sepang?
Ya pastinya beda dong... kelas balapannya aja udah beda. Kalau soal balapan, gak usah dibandingkan... Memang sih nonton A1 deg-degan juga karena ada pembalap Indonesia. Tapi begitu melihat Ananda melintir di tikungan pertama future race, langsung deh ilfil....
Aku lebih tertarik bikin catatan kecil soal bedanya sirkut Sepang dengan Sentul. Sentul yang dulu waktu baru jadi heboh luar biasa tapi sekarang kalah jauh pamornya dengan Sepang. Memang Sentul boleh dibilang kalah segalanya: kualitas trek, kualitas tribun, kualitas tempat parkir, dan lain-lain. Lokasi Sentul dekat sekali dengan rumah penduduk, jadi sulit mengatur penonton ilegal... cukup panjat pagar, sudah bisa nonton gratis... Ini membuat suasana tribun sesak, berantakan, kotor dan tidak teratur. Sementara lokasi Sepang nun jauh dari mana-mana... dan ruang terbuka di sekeliling sirkuit sangat luas, boleh dibilang pemandangannya cuma deretan kelapa sawit.
Tapi di acara A1 GP kemarin, Sentul menang untuk satu hal: ada transportasi bis ac yang gratis dari beberapa terminal di Jakarta. Lucunya, bis-bis ac bagus yang disediakan panitia A1 GP itu kebanyakan kosong melompong! Satu temanku naik dari Kelapa Gading, dan cuma dia saja penumpang bis itu... Jadilah sepanjang jalan dia mendengarkan kegemesan sopir dan kenek bis soal sepinya penumpang (bis-bis itu tetap berangkat sesuai jadwal walaupun gak ada penumpang). Sementara pintu tol Sentul macet total dan jadi area parkir gratis saking banyaknya penonton yang naik mobil pribadi. SBY aja sampai naik motor...
Sementara ke dan dari Sepang, kita bisa memilih, mau naik bis yang ok punya ke bandara KLIA (dan dari sana nyambung naik kereta ekspress ke KL) tapi lumayan merogoh kocek, atau naik bis non ac (lengkap dengan atribut india yang dipasang supirnya) ke stasiun kereta Nilai yang murah meriah. Pengalaman aku, naik bis non ac ternyata cukup menderita... karena rutenya bisa ajaib... mutar-mutar tergantung mood-nya supir... jadi nontonnya cuma 2 jam, perjalanan pulang ke KL nya bisa 3 jam... duh lumayan bikin pegel badan deh...
Orang Indonesia memang aneh ya... selama ini mengeluh karena gak ada transportasi umum yang nyaman. Tapi dikasih busway malah banyak yang protes. Disediakan bis ac gratis untuk ke Sentul malah gak dipakai... (termasuk aku...hehehe... abis kalau naik bis malah gak ada temennya...gimana dong...).

posted by retno@08:13
Saturday, April 01, 2006
Film: berBAGI SUAMI (ketika perempuan memilih untuk tidak memilih)
Aku melewatkan film pertama Nia Dinata yang mencetak sukses.."Arisan". Terlepas dari rekomendasi beberapa teman, aku hanya tidak tertarik dengan tema film itu, sehingga sama sekali tidak merasa sayang tidak menontonnya.
Tapi kali ini aku tidak bisa melewatkan film Nia yang kedua.. "berBagi Suami". Poligami selalu menarik, dengan segala pro kontranya. Kita pasti tidak akan mudah melupakan piala Poligami yang diberikan oleh komunitas Wong-Solo (lengkap dengan semua atribut kepoligamian...). Tema yang kontroversif dan sensitif. Pastinya akan sangat menarik untuk melihat bagaimana seorang sutradara bisa mengemasnya dengan "cantik".
Setiap tema atau topik yang kontroversif, cenderung akan memaksa kita untuk berpihak. Film yang mengupas tema kontroversif punya kecenderungan kuat untuk bersikap memojokkan suatu pihak atau menggurui penonton (Sinema Indonesia pernah membuat catatan tentang "film yang berusaha menjadi lebih besar dari judulnya"). Sutradara yang hebat paling sedikit punya dua pilihan: memotret dengan jujur atau membuat penonton berpihak pada pola pikirnya tanpa disadari.
Crash termasuk contoh film yang dengan gemilangnya berhasil membuat potret rasialisme yang kontroversif dengan jujur dalam bentuk tokoh-tokoh yang semuanya berwarna abu-abu.
Bagaimana dengan "berBagi Suami"?
Film ini bertutur tentang 3 orang wanita yang "terjebak" dalam poligami. Salma (Jajang C Noer), seorang dokter mandiri, yang pasrah menerima dirinya dimadu oleh pak Haji (bukan saja dengan 1 wanita, tapi dengan 3 wanita sekaligus). Siti (Shanty), gadis desa lugu, yang pasrah menerima dirinya dinikahi oleh PakLenya sebagai istri ketiga. dan Ming (Dominique, yang demi eksotisme namanya ditulis DOMInique), gadis keturunan Cina yang seksi, menerima disunting Koh Abun sebagai istri muda walaupun secara diam-diam...
Ketiga perempuan ini memilih untuk tidak memilih. Maksudku, mereka memilih untuk tidak mengambil pilihan yang sulit, mereka hanya menjalani hidup apa adanya.
Film bergerak dari sosok Salma. Seorang dokter yang cerdas dan mandiri tapi tidak mampu menolak kenyataan ketika istri kedua pak Haji tiba-tiba muncul dalam suatu acara. Perempuan memang banyak yang cenderung menutup mata akan sesuatu yang begitu jelas, itu sebabnya Salma berujar "Ternyata begini rasanya, lebih baik Salma tidak tahu...". Karena ketidaktahuan tidak membawa rasa sakit, bukan begitu? Pak Haji (El Manik) berusaha mengelak ketika didesak dengan pertanyaan "kenapa??..." dengan mengatasnamakan agama "saya melakukannya supaya tidak berzinah". Maka Salma pun belajar menerima dengan pijakan agama (pertempuran interpretasi ayat surat An-Nisaa pun muncul di sini, dengan bentuk talk show), walaupun sulit dilakukan dan tetap tak mampu berlapang dada walau sepuluh tahun sudah lewat. Anak Salma, Nadim (Wingky), mewakili sosok anak yang tumbuh dalam suasana poligami tapi tidak pernah dapat menyetujui dan mengerti jalan pikiran orangtuanya. Walaupun dialog Nadim di banyak tempat sedikit berlebihan (kaku? cenderung menggurui?), Wingky cukup berhasil menghidupkan sikap sinis, terutama ketika ia merasa kemandirian Salma begitu tersia-siakan karena Umi-nya itu begitu saja menerima dimadu.
Film kemudian berpindah ke sosok Siti. Gadis lugu dari desa yang mau ikut PakLenya (Lukman Sardi) karena diiming-imingi bisa ikut kursus. Ternyata pakLenya yang hanya berprofesi sebagai supir rumah produksi sudah (mampu) beristri dua. Anehnya kedua istri itu bisa (atau terpaksa?) hidup rukun, berbagi ruang di rumah petak yang sempit. Berbagi jatah dengan santainya... bahkan mendesak Siti menerima pinangan pakLe... Sayang di sini Shanty kurang berhasil menghidupkan kekagetannya antara bayangan dari kampung dengan kenyataan hidup yang ajaib. Kembali di sini, seorang wanita yang sebenarnya mandiri ditampilkan tidak berdaya... Sri (Ria Irawan) istri pertama, adalah empunya rumah petak itu dengan semua isinya, tapi tak mampu menolak keinginan suaminya untuk beristri lagi... dan memilih cara yang paling gampang sekaligus paling sulit: menganggap itu hal biasa dan menerima madu-madunya sebagai adik. Dia bahkan tidak bisa menolak larangan suaminya untuk ber-KB padahal anak mereka sudah begitu banyak. Di sisi lain, karena kedekatannya, timbul perasaan lain antara Dwi (Rieke Diah Pitaloka yang di film ini gak berhenti-henti mengepulkan asap rokok), istri kedua, dan Siti. Okelah, mungkin memang suasana aneh di rumah ini lama kelamaan setengah mendidik Siti untuk tidak perlu merasa kaget lagi, tapi apa iya dia bisa semudah itu memilih jadi lesbian?
Film berpindah lagi ke sosok Ming. Gadis seksi pelayan restoran bebek panggang kecil milik Koh Abun (Tio Pakusadewo, sepertinya orang paling beruntung di film ini karena banyak sekali adegan meraba-rabanya...) dan Ce' Linda. Ming yang digila-gilainya banyak laki-laki (bodinya itu lhooo... siapa sih cewek yang gak sirik dengan bodi seperti itu...), punya prinsip kebebasan.. tidak ada laki-laki yang boleh memilikinya seratus persen. Tapi ternyata dia mau saja dinikahi Koh Abun setelah diiming-imingi apartemen dan mobil. Diam-diam memang... karena Koh Abun ini termasuk ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). Apalagi kalau istrinya itu dianggap sebagai hokinya (memangnya jimat ya... tapi memang sih Ce' Linda ini digambarkan sebagai business-woman type). Ketika Ming dihadapkan pada pilihan: kebebasan atau hidup senang, dia pun memilih dua-duanya. Kalau bisa kursus akting tapi tetap dimanja, kenapa tidak???. Kalaupun akhirnya dia dipaksa melepaskan hidup senang, paling tidak Ming merasa masih punya kebebasan dan kesempatan untuk hidup senang lagi. Tapi nyatanya toh, dia tetap tidak bisa lepas seratus persen dari rasa sakit dipojokkan istri pertama dan ditinggalkan Koh Abun.
Nia memang tidak memberikan solusi atau pandangan tertentu, dia hanya berusaha memotret dengan jujur dari kacamatanya. Tapi apa iya perempuan sebegitu tidak berdayanya ketika dihadapkan dengan poligami? Bagaimana dengan laki-laki di film ini yang semuanya dengan mudah berpoligami? Hanya pak Haji yang menyesali keputusannya beristri banyak tapi itu juga lebih karena "pusing ngurusnya...". Sosok laki-laki yang memilih monogami hanya ditampilkan lewat Nadim tapi itupun tidak secara tegas...
Ada satu hal yang sedikit tersamar tapi sangat menarik. Eksistensi diri. Istri-istri kedua ketiga keempat di film ini, semuanya membutuhkan eksistensi diri. Mulai dari sosok Indri (Nungki) yang terang-terangan menunjukkan dirinya di acara resmi pak Haji dan Salma, Ima istri ketiga pak Haji yang muncul pada saat pak Haji jatuh sakit... sampai sosok istri keempat (Laudya Cynthia Bella) pak Haji yang tiba-tiba datang sambil menggendong bayi dan ikut meratap di kuburan pak Haji. Atau Ming yang terus-terusan mendesak Koh Abun untuk berterus-terang kepada Ce' Linda soal pernikahan mereka. Jadi istri kedua bagaimanapun akan selalu berada di bawah bayang-bayang istri pertama... lalu apa enaknya?
posted by retno@11:54
"Thamrin Road"
Pernahkan kamu menelusuri jalan Bukit Bintang di Kuala Lumpur, daerah Sim Paragon di Bangkok atau Orchad Road Singapura? Semuanya tampak serupa... jalan-jalan tak seberapa lebar menyelip di antara deretan mal, cafe, pub, pasar malam, butik-butik kecil dengan trotoar yang nyaman untuk dijelajahi. Sama seperti kota-kota di Eropa, salah satu daya tarik jalan-jalan itu adalah "wisata jalan kaki" yang dapat dinikmati sejak pagi sampai pagi lagi. Nyaman dan aman. Bisa dibilang, daerah-daerah semacam ini justru menjadi magnet keramaian.
Jumat malam, selesai menonton film Berbagi Suami di Teater Djakarta, aku mengajak temanku berjalan kaki ke EX. Sudah lama trotoar lebar sepanjang jalan Thamrin menggodaku untuk mencobanya. Maka kami berdua pun membayangkan suasana seperti di bukit bintang atau orchad saat menelusuri pinggiran Thamrin. Trotoar yang lebar pastinya cukup nyaman buat pejalan kaki...
Sayang seribu sayang, ternyata suasana malam hari yang ramai tidak kami temui. Rupanya keramaian hanya ada di sekitar Sarinah dan Sabang saja. Antara Sarinah dan Plaza Indonesia, yang sebenarnya tidak begitu jauh, hanya segelintir orang tampak berjalan kaki padahal jam masih menunjukkan pukul 9.15 malam... Kontras sekali dengan keramaian di Sim Paragon atau Bukit Bintang yang masih bertahan sampai tengah malam. Saat berjalan, kami baru menyadari kalau di sisi kanan jalan masih banyak ruang kosong yang gelap (yeah, must admit it's a bit freaky). Karena gelapnya, kami jadi gak bisa menikmati suasana dengan nyaman... tidak dapat ditolak, ada rasa takut yang menyelinap. Irama langkah terpaksa dipercepat dan kami jadi lebih sibuk mengamati bagian jalan yang lebih terasa aman untuk dilewati. Sepanjang jalan pun tidak ada pemandangan asik karena antara Sarinah dan PI hanya ada gedung-gedung perkantoran yang sudah sepi dan gelap. Buyar sudah bayangan kami...
Having lived in Europe for several years, i miss lots of small things... walking around city center, enjoying sunlight, refreshing my eyes with the sight of people, cafes, small boutiques, traditional markets, all together within your two-feet reach. I also miss going out using nice and cozy public transport, or bicycle.
Sebenarnya, antara Sabang-Sarinah dan Bundaran HI, semua unsur itu ada. Kalau bisa dibandingkan dengan masakan, semua bahan racikan sudah tersedia, tinggal bagaimana meramunya menjadi suatu masakan yang lezat buat semua orang. Ada mal yang megah di ujung yang satu, dan ada deretan warung-warung tempat makan yang asik di ujung yang lain. You can go modern or traditional. Taste "high-class feeling" or the ordinary people life. Nice-luxury expensive restos or lively-cheap warung (the food can be much better!). All the choices are there, but sadly still unconnected. Padahal itu bisa jadi daya tarik wisata yang luar biasa lho! sekaligus jadi tempat refreshing warga Jakarta sendiri... :)
posted by retno@01:37