Monday, October 03, 2005
Saturday, October 01, 2005
Minyak: antara kekayaan dan kemiskinan, antara ilusi dan kenyataan
"Afrika Barat dapat melipatgandakan produksi minyaknya, kemana kekayaan baru itu akan berujung - mengalir ke kocek para petinggi yang korup, atau menyejahterakan kehidupan jutaan orang?" (National Geographic Indonesia - Agustus 2005)
Minyak. Emas hitam. Bermiliar manusia di bumi bergantung hidup pada cairan hitam ini. Adalah fakta, minyak berevolusi dari benda tak berharga menjadi roda penggerak ekonomi dunia. Adalah fakta juga, pemilik kekayaan alam ini bukanlah penikmat terbesar dari jutaan dollar yang mengalir dari sumur-sumur minyak di seluruh dunia.
Indonesia sudah mengalami periode awal eksplorasi kekayaan ini lebih dulu dari Afrika Barat. Periode 70-an s/d 80-an adalah masa kejayaan emas hitam di Indonesia. Produksi minyak pernah mencapai titik tertinggi, 1.4 juta barrel/hari, sementara pemakaian dalam negeri kurang dari setengahnya. Indonesia dengan gagahnya lalu mendaftar untuk menjadi bagian dari OPEC dan mulai tercatat sebagai salah satu negara pengekspor minyak. Di sekolah didengung-dengungkanlah dogma: kekayaan negara ini begitu berlimpah ruah....
Tapi seperti juga halnya dengan Afrika Barat, kemanakah kekayaan itu berujung? bagi semua pemilik negara ini atau sebagian kecil "elit-elit" bangsa? Sebagian kecil orang-orang yang menjadi sedemikian kayanya karena minyak? Antara kekayaan segelintir orang pada jaman itu, dan kemiskinan berjuta orang lainnya. Jika saja kekayaan pada saat itu 100% mengalir ke pembangunan, bisa dibayangkan betapa majunya negara ini.
Di sisi lain, dogma itu melenakan sebagian besar rakyat.
Ya, negara kita begitu kaya, jadi tidak seharusnya kita membayar mahal untuk emas hitam itu. Yang terjadi adalah ilusi luar biasa. Pemborosan luar biasa. Penghematan energi dan penggunaan energi terbaharukan yang sistematis menjadi omong kosong belaka di negara ini, walaupun sudah dibicarakan sejak 25 tahun yang lalu.
Fakta pertama: emas hitam tidaklah abadi, akan habis cepat atau lambat. Fakta kedua: Indonesia sudah tidak pantas menjadi anggota OPEC, karena jumlah produksi sudah jauh di bawah kebutuhan dalam negeri. Fakta ketiga: harga minyak dunia ada di luar jangkauan kita. Fakta keempat: pemakaian minyak dalam negeri terus saja meningkat tiap hari karena sedikit orang yang peduli dengan penghematan.
Ada baiknya kita berpikir ulang, emas hitam yang masih tersisa di bumi negara ini, harusnya bisa digunakan secara bijaksana... kalau kita tidak ingin melihat kegelapan buat generasi depan...
Sepatah ucapan dari Arifin Panigoro, pemilik perusahaan minyak swasta terbesar di Indonesia, mungkin perlu juga direnungkan: "sebagai perusahaan minyak, kita juga punya misi mulia.... menjaga agar kebutuhan minyak negara ini tetap aman di masa depan". Tapi itu saja tidak cukup. Tanpa menghilangkan ilusi tadi, bangsa ini tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai kekayaan emas hitam yang sebenarnya tidak abadi itu.... dan bagaimana menggunakannya sebijak mungkin untuk kekayaan semua... bukan kekayaan segelintir dan kemiskinan berjuta. Semoga...
posted by retno@21:16