Thursday, January 27, 2005
Seducing Dr. Lewis: Pride is being paid for your sweats
Why on earth these villagers dreaming to have a simple-small-plastic factory placed in their tiny-remote-island-village?
Ok, the story is all about these people trying v hard to seduce an uptown doctor from Quebec so that he'll be so happy to sign a long term contract (5 years) as their doctor.
C'mon, what's really the excitement of working in a tiny-remote village? not much, esp for a plastic surgeon who licks (literally) on cocaine. Of course when a police (whom accidentaly was the former major of that village) shacked him for getting drunk while driving and carrying cocaine, it immediately turns into a logical-no-other-option. So he agrees to stay for a month. That means the villagers have only one month to seduce this doctor and get him settled down.
Question then, why do they need a permanent doctor so badly? sure they need one, but that's not their ultimate goal...
These people are fishermen, except there aren't so many fishes to catch anymore. So they live from monthly welfare-check from Canadian government. it's sort of embarrassment for them, getting paid for no sweat. just lining up in front of postal office every month and then straight to the bank. Like the new major said: "the money lasts for two weeks, but the humiliation lasts forever".
So they want to work. they need a factory and having a permanent doctor is a prequisite, plus population should be at least 200 people.
And here go their plans:
Plan A --> send invitation letters with tempting picture of the island to every single doctor in Quebec. Result: zero. Ain't work at all. All letters ended up straight to garbage...hah!
And then comes the good news: there'll be "A" doctor! First impression is everything, so this is their Plan B:
1. the doctor is crazy 'bout Crickets (fyi: canadians are known best for their ice-hockey teams, so cricket is definitely not what they'd call sport!). No other choice then, all villagers have to learn crickets. outfits are made for everyone and everyone gets detailed instruction about cricket game (printed from Internet). Funny is, though it seems like a crazy idea for them, they still do it, so the doctor is made to believe these villagers are also cricket facnatics as playing cricket is part of their old tradition.
2. bug his house and get all detail-little things he hates and likes: fav food, fav music, etc etc etc.
3. do other magical things to make him feel it's home.
Successful are they? As this a happy-ending story, of course they are...but not without consequences :).
It's entirely funny in a refreshing way though perhaps is not that original. Recommended for those who're eager to get a grip on a simple but not so much holywood-typical comedy.
posted by retno@09:35
Tuesday, January 25, 2005
Monday, January 10, 2005
Friday, January 07, 2005
Comfort Zone
Ada topik menarik di milis angkatan.
Ada yang menulis soal "perubahan". Katanya.... perubahan itu perlu, don't get stuck in "comfort zone"! cos once you get stuck, you'll become too lazy.
apa iya?
oke, teori saya begini:
perubahan akan selalu terjadi dalam hidup, sampai akhirnya fase "comfort zone" itu tercapai.
nah, fase "kenyamanan" itu tergantung pada dua hal.
Pertama: persepsi seseorang tentang "comfort zone" itu sendiri
Sebenarnya tingkat "kenyamanan" itu tergantung pada persepsi masing-masing orang. mungkin ada yang merasa "nyaman" begitu sudah mencapai hal-hal tertentu dalam hidupnya dan ingin terus menikmati hal-hal itu. ini manusiawi sekali. begitu manusia merasakan enaknya hidup "nyaman", akan kecil kemungkinannya manusia itu mau berubah lagi. tapi, di sisi lain, ada juga orang yang malah merasa nyaman hidup dalam arus perubahan yang terus-menerus. this kind of people would claim:
without changes, without challenges, what is life? jadi kalau memang kita ini tipe orang yang merasa senang hidup "nyaman" what's wrong with it? kalau kita merasa tipe yang menyukai perubahan, again...nothing's wrong
Kedua: datangnya "comfort zone" berbeda-beda
Saya pikir itu semua sebenarnya fase-fase yang akan dilewati setiap manusia. it's part of life, like it or not, you're gonna through it. hanya saja, mungkin periodenya yang berbeda-beda bagi setiap orang. ada yang sudah merasa "settled" makanya merasa "nyaman" di usia muda, misalnya terhadap pekerjaan, atau menikah, atau yang lain. Ada yang sudah mendapat pekerjaan yang relatif baik dan "mapan" (
well, mapan juga ukuran yang relatif bukan?) di usia yang sudah lebih tua tapi masih merasa "gelisah" sehingga "tidak nyaman".
Akhirnya, seperti sebuah siklus, setiap orang punya jalan sendiri2. pastinya akan menuju satu titik "comfort zone" yang mutlak yaitu, what else?,
death. Apakah orang itu sebelum mencapai titik ini sudah lebih dulu merasakan "comfort zone" yang relatif itu, i have no idea. can be. and can be not.
Bagaimana dengan saya sendiri?
Rasanya mirip dengan teman saya Barkah yang mengatakan "gua ada di comfort zone yang berubah, ret!". well, what the hell is that?? hahahaha...
Gak ah. rasanya saya lebih suka dunia yang terus berubah, walaupun saat ini saya dengan nyaman duduk di kursi kantor dan mengetik tulisan ini, tapi badan sudah terasa gatal ingin mengalami perubahan, ingin bergerak, ingin melangkahkan kaki, ingin merengkuh dunia lain yang belum pernah saya lihat dan saya kunjungi. siapa tahu, mungkin saya memang sebenarnya termasuk tipe orang yang justru merasa lebih nyaman hidup dalam arus perubahan.
And how about you?
posted by retno@17:38
Thursday, January 06, 2005
Wednesday, January 05, 2005
Tahun Baru dan Duka...
Tahun Baru datang disertai duka .
Duka melihat tragedi di Aceh.
Duka kehilangan teman yang sungguh tak terduga, Sabtu 1 Januari 2005.
Selamat jalan Reggie...
Walaupun aku baru mengenalmu selama 1.5 tahun tapi sudah begitu banyak kenangan tercipta.
Seorang teman yang ingin maju, ingin hidup lebih baik, tidak mau selamanya menjadi office boy. Iya kan, Allah SWT sudah menggariskan: tidak akan berubah nasib suatu kaum jika mereka tidak berusaha. Aku sungguh mengagumi semangat seperti itu, sebab begitu banyak teman yang jauh lebih beruntung hidupnya dari segi materi maupun pendidikan, tapi tidak ada keinginan untuk maju.
Terakhir kita bertemu, ada dua keinginan yang tersampaikan. Kamu mau kasih jawaban soal kerjaan yang aku tawarkan, kerjaan administrasi, hari Senin tgl 3 Jan lalu. Kamu juga minta oleh2 baju/kaos Barong dr Bali. Tapi Allah SWT sudah menetapkan kamu untuk kembali ke sisiNya sebelum keinginan itu tercapai.
Reggie... sekarang aku sudah bawa baju barongnya...nanti aku kasih ke keluarga kamu saja ya...mungkin akan jadi rejeki bagi seseorang yang lain.
Oh, ada satu lagi... aku ingat kamu terakhir kasih aku no rekening MetroTV... buat kirim sumbangan untuk Aceh. "Aku juga mau kirim Mbak...cuma belum sempat aja..." kata kamu. Ini catatannya masih aku simpan Gi.... walaupun akhirnya aku kirim gak ke Metro tapi ke Kompas dan SCTV.
Pagi-pagi tadi, pas jalan dari gerbang ke kantor, melihat Signboard di atas gedung, jadi ingat kamu juga...gimana dulu kamu ngerjain aku sampai ikut naik ke atap gedung buat ngukur tempat untuk signboardnya...
Rasanya kamu masih ada di sekitar kami di kantor. Setiap sudut mengingatkan kami pada sosokmu. Ade sampai bilang, kamar mandi di lantai 2 tuh "Reggie banget!". Siapa sih di kantor ini yang belum pernah kamu tolong, atau kamu boncengin? (apalagi aku ya Gi....sering banget ke Bank diboncengin...). Rasanya kok kamu masih seperti libur aja deh...padahal kami sudah kehilangan kamu untuk selamanya ya....
Insya Allah, semua dosa-dosamu diampuniNya dan surga adalah tempatmu Gi...
Aku tahu, semua orang ada sisi baik dan sisi jeleknya. Tapi Insya Allah, aku akan selalu mengenang sisi baik Reggie....
posted by retno@13:43